Bantu Cegah Penyebaran Covid

Bila memang diperlukan, rumah sakit akan mengirim ambulans khusus untuk menjemput Anda. Protokol isolasi mandiri dikeluarkan pemerintah dengan tujuan untuk mengurangi penularan COVID-19. Pasalnya, virus Corona mudah sekali menyebar dan dapat menyebabkan gejala yang berat dan berakibat deadly. Mereka juga perlu mengenakan sarung tangan jika akan kontak dengan cairan dari pasien, seperti muntahan, feses atau saliva. Semua sampah terkontaminasi, seperti tisu yang sudah terpakai, masker dan sarung tangan, harus dimasukkan ke tempat sampah khusus.

Siapa pun yang merawat seseorang di rumah yang terinfeksi COVID-19 Mengapa? Mereka yang merawat orang-orang yang terinfeksi COVID-19 harus mengenakan masker medis untuk perlindungan. Sekali lagi, sering berkontak erat dalam waktu lama dengan orang terinfeksi COVID-19 memberikan risiko tinggi bagi pengasuh.

Jika sudah masuk pada tahap kritis seperti kesulitan bernafas, WHO menyarankan untuk pasien dirawat intensif oleh rumah sakit. Karantina mandiri berarti memisahkan diri dari orang lain karena Anda telah terpajan dengan seseorang yang terinfeksi COVID-19 meskipun Anda tidak memiliki gejala. Selama karantina mandiri, pantau gejala-gejala yang dialami. Tujuan dari karantina mandiri adalah untuk mencegah penularan. Karena orang yang terinfeksi COVID-19 dapat menularkan secara cepat ke orang lain, segera mengarantina diri dapat mencegah orang lain tertular infeksi.

Selain itu, isolasi diri bisa menjadi cara untuk memantau kesehatan diri sendiri. Selama isolasi, pasien harus mengukur suhu tubuh setiap hari dan secara saksama mengamati perkembangan gejala yang dialami. Pasien harus segera menghubungi fasilitas layanan kesehatan jika kondisi yang dialami memburuk.

Diusahakan untuk memisahkan peralatan makan dengan anggota keluarga lainnya. Selain itu, sediakan tempat sampah atau kantung plastik khusus untuk membuang tisu yang Anda gunakan untuk batuk, bersin, dan membersihkan mulut atau hidung. Anda juga disarankan untuk rutin membersihkan permukaan benda yang sering disentuh, seperti wastafel, gagang pintu, atau telepon, dengan cairan disinfektan.

Tutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin, dengan tisu atau lengan atas bagian dalam yang tertekuk. Segera buang tisu ke tempat sampah yang tertutup dan bersihkan tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer. Rekomendasi untuk isolasi mandiri ini juga akan meringankan beban tenaga medis. Oleh karena itu, bagi pasien yang positif tapi tanpa gejala, biasanya akan disarankan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

Tetapi perlu diingat, keputusan boleh tidaknya isolasi mandiri selesai harus persetujuan dokter. Kriteria PCR untuk menunjukkan isolasi mandiri bisa selesai, menurut Dokter Adam Prabata adalah jika dites PCR lagi, hasilnya dua kali negatif berturut-turut dengan jeda minimal 24 jam. Sebaiknya, orang yang tinggal Slot Online Terbaik satu rumah dengan pasien juga melakukan screening Covid-19 atau Swab Test untuk mendeteksi adanya potensi paparan Covid-19. “Kadang warga ada yang kumpul-kumpul, misalnya untuk makan bersama, dan setelah itu foto-foto bareng. Bahkan ada yang sampai buka masker, dan kemudian berteriak saat difoto,” kata dia.

Cara untuk isolasi mandiri

Jika hasil screening mengindikasikan adanya potensi Covid-19, maka pasien akan diarahkan untuk melakukan SWAB Test. “Namun, para pasien dapat langsung melakukan pemeriksaan SWAB Test tanpa harus melakukan screening Covid-19 terlebih dahulu,”ujar dr. Ferdy D. Tiwow, SH. MS, CEO Primaya Hospital Group. Prosedur karantina kontak erat serupa dengan isolasi mandiri pasien COVID-19 walaupun tidak perlu minum obat. Kalaupun hasil tes PCR atau antigen negatif, anggota keluarga tetap wajib melakukan karantina di ruangan yang berbeda selama 14 hari, untuk mengantisipasi munculnya gejala. Anggota keluarga tersebut juga jangan mengungsi ke rumah orang lain karena sudah terpapar COVID-19 sehingga berpotensi menularkannya pada orang lain.

Abel